Habituasi Demokrasi

Disiapkan oleh RUMAH SULUH

Pendahuluan

Setelah orde baru berakhir, pada 1998, berbagai upaya “demokrasi” telah dikembangkan. Ruang kesempatan yang terbuka, telah mengundang banyak pihak – baik elemen-elemen baru, maupun elemen lama, yang bermotif melanggengkan status quo. Harus diakui, bahwa perubahan 1998, bukanlah jenis perubahan yang drastic, oleh sebab dalam pemilu 1999, kekuatan lama masih menjadi bagian, dan bahkan dapat dikatakan bahwa kekuatan pembaru, tidak sepenuhnya menguasi arena, yang berakibat bahwa gerak perubahan tidak berjalan sebagaimana yang semula diharapkan.

Apa yang segera kita saksikan adalah munculnya berbagai langkah demokrasi. Yang apabila kita sederhanakan nampak menjadi: Pertama, suatu upaya yang didorong oleh banyak elemen, seperti aktivis sosial, akademisi, lembaga donor, yang mendisain suatu tata baru, melalui sejumlah “intervensi” pada ruang politik. “Intervensi” tersebut dimaksudkan untuk melakukan reform pada sistem politik dan demokrasi Indonesia, yang berupaya untuk, Pertama, melakukan kontrol pada kekuasaan politik pemerintah. Baik di level pusat, daerah hingga desa. Pengawasan tersebut dijalankan dengan memperkuat partisipasi warga untuk ikut dalam proses perencanaan pembangunan hingga mengawasi jalannya. Di sisi lain pemerintahan diminta untuk melakukan transparansi serta akuntabilitas. Intervensi jenis ini, dalam batas tertentu berada dalam bingkai politik kebijakan, good governance.

Kedua, perubahan sistem Pemilu. Salah satu persoalan Indonesia sebelum era reformasi ialah figur pemimpin. Pemimpin di level nasional, provinsi, maupun kabupaten/kota dianggap banyak yang tidak memiliki kepedulian, tidak cakap, tidak pro pada perubahan nasib rakyat serta menjadi pelaku korupsi. Oleh karena itu, mekanisme pemilihan pemimpin diubah dengan melibatkan rakyat secara langsung. Asumsinya ketika rakyat yang memilih pemimpin, maka kedaulatan dikembalikan kepada rakyat, dan pemimpin hanya mengabdi pada kepentingan rakyat.

Dua dorongan tersebut, dimaksud untuk: (i) merubah arena dan proses; (ii) mendorong masuknya elemen-elemen maju; dan (iii) memastikan suatu jenis control yang efektif. Perubahan-perubahan mendasar tersebut dibuat untuk menyelesaikan persoalan pokok bangsa ini yakni kemiskinan, kesenjangan social, kerusakan lingkungan, dan berbagai soal lain seperti kualitas sumber daya manusia (pendidikan), pengangguran, dan korupsi. Pertanyaan besarnya adalah apakah setelah dua windu berjalan, keadaan berubah secara meyakinkan? Kita tentu melihat adalah langkah perbaikan, namun agenda utama masih menjadi pokok soal kita sebagai bangsa.

Atas dasar kenyataan-kenyataan itulah, Rumah Suluh, mengambil inisiatif dan mendorong inovasi, yang pada nantinya dijalankan secara terbuka, melalui apa yang hendak disebut di sini sebagai habituasi demokrasi.

Habituasi Demokrasi*

Apakah habituasi demokrasi (pembiasaan demokrasi)? Apa itu pembiasaan? Mengapa? Apa yang hendak dibiasakan? Siapa pihak yang harus terbiasa? Bagaimana mengembangkan kebiasaan tersebut (demokrasi)?

Dalam makna umum, pembiasaan adalah upaya penyesuaian untuk menjadi biasa, terbiasa, pada, dengan atau untuk sesuatu. Tentu saja dalam soal ini terdapat sejumlah pengandaian, antara lain: bahwa yang hendak dibiasakan adalah hal yang diketahui persis, disadari, diterima dan ada kesediaan untuk menjadikannya hal yang rutin dalam kebiasaan hidup (bersama).

Pembiasaan demokrasi, dengan sendirinya membutuhkan syarat mutlak bahwa warga mengetahui secara persis maksud dan makna demokrasi, khususnya dalam kerangka menata hidup bersama. Demokrasi dengan sendirinya, bukan lagi berposisi sebagai konsepsi-konsepsi abstrak, melainkan menjadi bagian dari hidup warga, oleh sebab itulah, demokrasi di sini harus tumbuh dan berkembang bersama warga.

Pengertian demokrasi yang tumbuh berarti bahwa warga dengan seluruh dinamika perjuangan hidupnya membentuk sendiri makna, formasi dan implementasi demokrasi. Untuk karenanya melalui praktek hidup warga dilakukan pemaknaan ulang, koreksi, dan pada gilirannya pembiasaan.

Proses ini hendak memastikan bahwa demokrasi bukan hanya suatu metode yang tidak sambung dengan pencapaian, sebaliknya demokrasi yang hendak dikembangkan, adalah demokrasi yang menjadi cara sekaligus tujuan, dan dengan demikian demokrasi akan memastikan terjadinya perbaikan kualitas kehidupan bersama.

Beberapa langkah yang hendak dilakukan dalam skema habituasi demokrasi yakni:

1. Pembetulan (3R)habitus demokrasi rumah suluh

  • Riset Demokrasi

Dilakukan untuk menemukan kembali tata kehidupan masyarakat yang sudah ada. Melakukan riset bersama warga.

  • Refleksi Demokrasi

Refleksi dilakukan untuk mengugah kesadaran warga agar menjadi bagian dari komunitas. Sadar pula bahwa ada keperluan/kepentingan dirinya terhadap dinamika yang terjadi di komunitas.

  • Reaktualisasi Demokrasi

Nilai-nilai yang telah ditemukan kembali tersebut disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan saat ini. Kemudian disusun menjadi sebuah simple action plan bersama.

2. Pemulihan (3P)

  • Periode (kalender) Demokrasi

Adanya kesadaran bahwa warga memiliki waktu yang terbatas untuk mengikuti setiap kegiatan politik di komunitasnya. Oleh karena harus memenuhi kebutuhan hidupnya masing-masing. Sehingga gerak hidup demokrasi hendaknya mengikuti siklus hidup warga.

  • Pilot Demokrasi

Adanya sebuah komunitas yang mulai dijadikan pilot atau pelopor penerapan habituasi demokrasi.

  • Praktek Demokrasi

Praktek ini dilakukan dengan menerapkan hal-hal kongkrit di masyarakat, mulai dari kebersihan desa, keamanan desa, kebudayaan desa, tempat bermain anak, adanya tabungan bersama (dana abadi desa), termasuk penyediaan bahan-bahan pokok.

3. Pembiasaan (3D)

  • Demokrasi Setempat

Demokrasi yang kita harapkan yakni demokrasi yang berdasar pada nilai-nilai setempat, dan dapat menjadi jalan untuk menyelesaian masalah-masalah setempat. Kita berangkat dari gagasan: masalah setempat, penyelesaian setempat.

  • Demokrasi Seketika

Demokrasi dapat menyelesaikan persoalan-persoalan rakyat dengan seketika atau cepat. Demokrasi adalah ekspresi tindakan cepat. Tidak ada penundaan, oleh sebab masalah-masalah baru sudah menanti di depan.

  • Demokrasi Selamanya (sustain)

Demokrasi dapat berjalan dengan berkelanjutan. Demokrasi bukan urusan hari ini, namun kini, esok dan seterusnya.

*Rujukan: Makalah Meretas Jalan Habituasi Demokrasi, 2004. Dadang Juliantara.