Eropa kini, menjadi pusat perhatian. Bukan lantaran krisis ekonomi, yang berpotensi membawa pengaruh global, melainkan karena bola. Laksana massa besar yang dimampatkan, bola bundar yang bergerak liar, mampu mengeluarkan efek gravitasi yang besar, sedemikian rupa sehingga perhatian dunia tertuju kesana. Revolusi di bidang informasi dan teknologi, telah merelatifkan ruang dan waktu, sehingga suatu kejadian di sebuah benua, pada waktu yang sama dapat disaksikan – bukan hanya kejadiannya, namun juga seluruh emosi yang memberi makna pada kejadian dimaksud. Arus besar gravitasi sedang berlangsung, yang tidak ambil bagian akan (merasa) tertinggal, karena ketidaksukaan tidak dapat disorong sebagai dalih ketidaksertaan. Semua mendadak suka, intens, dan jeli.

Bagi Eropa, peristiwa ini tentu positif (dari banyak segi), terlebih jika dikaitkan dengan situasi krisis ekonomi yang menurut para analisis lebih buruk dari krisis tahun 30an. Ada optimisme. Bahkan untuk Negara penyelenggara, dipastikan memperoleh keuntungan yang bersifat langsung, baik berupa kunjungan wisatawan ataupun efek lainnya. Pihak persatuan sepak bola eropa (UEFA) memperkirakan pendapatan komesial mencapai angka milyaran dollar AS, atau puluhan juta dollar AS per pertandingan. Pemasukan dari sponsor, penjualan pernak-pernik, penjualan tiket hingga kontrak siar (diiperkirakan tidak kurang 150 juta orang akan menonton pertandingan). Gerak ekonomi, tentu bukan sebatas pada arena tersebut, di luar itu berkembang berbagai transaksi ekonomi lain, termasuk bisnis gelap. Apa yang hendak dikatakan di sini, bahwa di balik heboh pergerakan bola, terdapat pergerakan ekonomi-politik, baik yang berdampak langsung maupun yang punya dampak strategis.

Ulasan ini tentu tidak dalam maksud membahas perihal ekonomi dan berbagai angka bisnis yang mengikutinya. Perhatian kita tertuju kepada: apa yang menggerakkan begitu banyak orang sehingga bersedia menjadi “konsumen” yang militan. Dengan apa kita menjelaskan adanya suatu realitas dimana seseorang atau sekelompok orang merasa memiliki sesuatu atau malah memiliki kebanggaan, bukan lantaran suatu karya atau prestasi, melainkan karena ikut menjadi penonton. Sebaliknya, ada pihak yang akan merasa sangat rugi, menyesal atau sejenisnya, ketika tidak berkesempatan menonton. Kebanggaan sebagai pencerita. Kebanggaan sebagai penonton. Kebanggaan sebagai konsumen. Apa sebetulnya yang sedang terjadi?

Dalam konteks Negara bangsa, terutama dalam kerangka membangun integrasi bangsa, dan dalam rangka memperkuat national power, kesenian dan olah raga, memang kerapkali dipakai sebagai sarana. Jika kita menilik sejarah lahirnya gedung olah raga nasional, maka sangat jelas kaitan antara panggung olah raga, dengan panggung politik, panggung bangsa. Ketika suatu tim bertanding mewakili bangsa, maka dukungan yang muncul, bukan sekedar dukungan sempit, bukan sekedar rasa hormat kepada tim, melainkan rasa bangga kepada bangsa. Artinya, menjadi penonton yang militan dalam konteks dukungan kepada tim nasional, dapat dipandang sebagai bagian dari perjuangan kebangsaan, menjadi bagian dari proses pendalaman nasionalitas.

Apakah cara pandang ini dapat digunakan untuk memahami gelombang pasang perhatian pada bola di Eropa saat ini? Barangkali ada kemiripan, namun jelas ada perbedaan. Batas-batas geografi, kultur dan keyakinan politik, telah ditembus. Suatu komunitas baru terbentuk, dengan suatu dasar yang barangkali masih perlu dirumuskan konsepsinya. Apa yang nampak, adalah bahwa segala symbol dan berbagai nilai yang mengikutinya, tersosialisasi dengan baik dan menjadi penanda. Bagi kita, yang paling penting adalah bahwa di balik proses tersebut, terjadi suatu proses yang hendak dikatakan di sini sebagai proses “pengkonsumen”. Proses inilah yang mungkin dapat menjelaskan mengapa para penonton menjadi pihak dengan militansi. Persis disini pula kita menyaksikan suatu penyeragaman selera dan pada akhirnya gaya hidup.

Tidak mengherankan bila kelak ditemui kejadian dimana berbagai produk menjadi media dari ikon-ikon dunia, dan berbagai variasinya. Proses ini dapat dipandang sebagai bagian dari proses pengintegrasian global – sebagai salah satu jalan untuk menembus berbagai hambatan, dari regulasi sampai kultur. Suatu pengintegrasian konsumen, tentu saja merupakan proses yang harus dilihat dalam kaca mata yang kritis, sebab hal ini dalam jangka panjang akan bermakna sebagai proses marjinalisasi – terutama kekuatan-kekuatan produksi local. Selera global, sudah barang tentu akan menjadi tantangan tersendiri bagi kultur local. Bukan tidak mungkin lokalitas menjadi kehilangan relevansi di masa depan.

Tentu saja kita berharap bahwa apa yang kini terjadi hanyalah sebuah fenomena sesaat, bukan merupakan sesuatu yang direncanakan. Jika benar demikian, maka yang perlu dipikirkan adalah menjadikan realitas kegairahan bola, menjadi kritik ke dalam. Yang dimaksud bukan sekedar kritik pada kualitas dunia olah raga kita, melainkan juga kritik yang lebih luas, yakni kritik kebudayaan. Kehebatan kita untuk menjadi konsumen bagi berbagai produk luar, termasuk pertandingan olah raga, harus ditransformir menjadi kehebatan dalam produksi, termasuk melahirkan tim yang handal sehingga dapat mengharumkan nama bangsa dihadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Apakah kita punya hambatan untuk melakukan itu? Sejarah mengundang kita untuk membuat yang terbaik.