Belum lama, ada beberapa peristiwa penting yang sarat dengan makna, terutama bagi masa depan DIY, yakni: Pertama, pengukuhan anggota Dewan Riset Daerah (DRD) DIY (KR, 16 September 2010). Meski bukan peristiwa yang baru, namun tantangan yang dilemparkan oleh Gubernur dalam acara pengukuhan tersebut terasa menggugah. Gubernur menantang kepada DRD untuk mendorong pengembangan teknologi tepat guna agar dapat langsung dimanfaatkan masyarakat. Tantangan ini dapat dibaca dalam dua arah: (1) dalam konteks kekinian, yakni pentingnya kehadiran teknologi tepat guna yang dapat membantu masyarakat dalam mengatasi persoalan-persoalan berkait dengan kesejahteraan dan perbaikan kualitas hidup; dan (2) dalam konteks masa depan, tentang pentingnya riset-riset teknologi, sebagai bagian dari etos tekonologi, jika kita ingin mencapai kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna.

Kedua, DIY menjadi tuan rumah Olimpiade Kebumian Internasional (International Earth Science), yang diikuti tidak kurang dari 19 negara. Meski dari segi publikasi terasa kurang, namun momen kegiatan ini dapat menjadi bagian dari picu membangun suatu kesadaran baru dalam memandang “bumi”, terutama dalam konteks posisi negeri ini yang berada di atas “ring of fire”. Ketiga, Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Nasional XII, di gedung JEC. Kegiatan ini jelas tidak sekedar suatu “pamer”, melainkan dapat dilihat sebagai upaya membangun kesadaran teknologi, mengingat daya saing (daerah), keunggulan dan langkah-langkah membangun kesejahteraan bangsa, akan juga bergantung pada pengembangan sains dan teknologi.

Keempat, suatu kegiatan pameran computer dan produk IT pada umumnya, yang meskipun adalah kegiatan rutin, namun penyelenggaraan kali ini terasa memiliki greget yang luar biasa. DIY merupakan salah satu “konsumen” penting produk IT. Sebagai kota “pelajar”, DIY tentu saja merupakan pasar yang potensial, dan sekaligus sebagai produsen potensial, terutama berkait dengan inovasi perangkat lunak dan sains komputasi dan informatika.

Empat peristiwa tersebut, yang dirangkai dengan berbagai peristiwa lain, termasuk prestasi pelajar DIY di kancah nasional dan internasional, di bidang sains dan teknologi. Kesemuanya membawa gairah baru yang menjanjikan. Kita menyadari bahwa gairah sains dan teknologi, juga berkembang di berbagai negeri. Malah mereka melompat sangat jauh. Kita menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa di dunia berlomba untuk mengembangkan teknologi, mengingat berbagai keterbatasan telah menjadi keniscayaan masa depan, termasuk keterbatasan alam dalam menopang partumbuhan jumlah manusia di planet bumi ini. Perkembangan dan kemajuan teknologi, tentu saja tidak bisa menunggu, apabila bangsa ini hanya menghabiskan waktu untuk perkara yang remeh-temeh, maka selamanya kita akan menjadi bangsa konsumen, yang tidak akan pernah menjadi bangsa unggul, apalagi bermimpi menjadi pusat peradaban baru yang berbasis kemajuan sains dan keutamaan.

Tantangan DIY.

Marilah kita focus pada DIY, meski diakui bahwa dinamika DIY tidak lepas dari dinamika nasional, begitu juga sebaliknya. Dengan focus pada DIY kita maksudkan adalah mendisain suatu langkah besar, mulai dari daerah. Langkah yang dimaksud adalah menjadikan DIY sebagai pusat sains di masa depan, yakni pada 2020. Apakah ini mungkin untuk dikembangkan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus mengenali persoalan atau tantangan yang dihadapi DIY, kini dan masa yang akan datang. Kita mencatat beberapa persoalan yang strategis, yakni:

Pertama, demografi dan ekologi. Tidak dapat diingkari bahwa pertumbuhan penduduk, akan menjadi persoalan nyata jika tidak diantisipasi dengan baik. Realitas ini bukan saja membawa tantangan pada konsumsi, tetapi juga pada tata ruang, oleh sebab kebutuhan akan lahan perumahan, akan berbenturan dengan kebutuhan lahan untuk pertanian, areal hijau, dan lain-lain. Dengan demikian, masalah ini akan memicu penurunan kemampuan daya dukung alam, dan pada gilirannya akan menambah masalah-masalah ikutan, termasuk lapangan kerja.

Kedua, masalah alam, berkait dengan bencana, yang intensitasnya terasa meningkat dari waktu ke waktu. Kita sudah menyadari bahwa Indonesia berada di wilayah ring of fire. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius semua pihak, tentu agar kita dapat mengantisipasi situasi darurat akibat gempa (baik tektonik atau vulkanik), atau bencana lain, seperti angin. Untuk bencana seperti gempa bumi, kita tentu saja tidak dapat menghalangi kehadirannya. Yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa cara kita hidup benar-benar sesuai dengan realitas alam, sehingga korban dapat diminimalisasi ketika bencana muncul. Kemampuan kita ini akan menentukan citra kota, dan dengan sendirinya akan meningkatkan keunggulan daerah.

Ketiga, perubahan sosial sebagai akibat dari masuknya kelas menengah baru atau kaum pendatang, yang sangat mungkin membawa nilai-nilai yang tidak sesuai dengan kultur DIY. Dalam konteks ini, DIY harus berbenah, agar tidak menjadi marjinal dan disisi yang lain tetap dapat hidup dengan kearifan local, sehingga meski dalam bidang sains mengalami kemajuan yang sangat pesat, namun identitas local tetap terjaga. Apakah DIY memiliki kemampuan untuk mempertahankan lokalitasnya? Ketiga tantangan inilah yang kita pandang akan dihadapi oleh DIY. Kemampuan kita menjawab, akan menentukan masa depan DIY.

DIY Sebagai Pusat Sains.

Ketiga tantangan yang disebutkan di atas, secara nyata menuntut DIY untuk melakukan langkah besar. Ketiga masalah tersebut tidak mungkin diatasi dengan program jangka pendek, yang bersifat reaktif. Kita membutuhkan visi jauh. Menjadikan DIY sebagai pusat sains, berarti bahwa seluruh komponen masyarakat di DIY menjadikan sains sebagai orientasi masa depannya. Apa yang diharapkan segera dihasilkan agar DIY dapat menjadi pusat sains pada masa depan, yakni pada 2020?:

Pertama, kultur sains. Meski DIY ada banyak perguruan tinggi, namun sampai kini kita belum menyaksikan tumbuhnya kultur sains di masyarakat. Kita berharap perguruan tinggi di DIY dan kaum intelektual, secara seksama memikirkan bagaimana menumbuhkan kultur sains. Kultur inilah yang akan menjadi fondasi bagi DIY di masa depan, disamping nilai-nilai lokalnya yang adiluhung. Kultur sains hanya mungkin terbentuk jika masyarakat secara luas ambil bagian dan menjadi penguat kultur baru tersebut.

Kedua, kebijakan yang pro pada pertumbuhan sains. Kita membutuhkan kebijakan pendukung, seperti dukungan untuk riset-riset, baik bagi ilmuan ataupun bagi angkatan muda, seperti anak-anak SMP atau SMA yang memiliki bakat keilmuan. Begitu pula dukungan untuk menumbuhkan pusat-pusat diskusi, pusat-pusat perpustakaan komunitas, dan berbagai daya dukung yang lain.

Ketiga, tata ulang pendidikan DIY, agar benar-benar menghasilkan lulusan yang memiliki kesadaran dan berorientasi pada sains, selain kemampuan untuk hidup secara nyata. Kita perlu belajar dari Eropa dan negeri-negeri lain pada abad 11-13, yang berhasil meninggalkan masa gelap, karena keberaniannya menata pendidikan. Munculnya kampus-kampus ternama, seperti Universitas Oxford dan Universitas Cambridge di Inggris dan Universitas Sorbonne di Prancis, tidak lepas dari scenario besar bangsa-bangsa Eropa dalam menata pendidikan. Kesemuanya ini menjadi cikal bakal membangun kultur, kualitas sumberdaya manusia dan pemikiran-pemikiran penuh karakter. (Syamsudin S.Pd., Ketua Pusat Studi Pendidikan, IKA-UNY, Yogyakarta).