Harus diakui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan sektor yang menjadi penopang perekonomian Indonesia. Betapa tidak, jumlah Usaha Micro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia sangat besar, mencapai 57,9 Juta usaha. Tenaga kerja yang terserap dalam sektor ini mencapai 97,30% (data 2014) dan kontribusi pada PDB 58,92%. Besarnya jumlah penyerapan tenaga kerja membuat UMKM menjadi tumpuan hidup sebagian besar rakyat Indonesia.

Hanya saja, kondisi UMKM masih jauh dari kondisi berdaya. Banyak persoalan yang masih merintangi pengembangan UMKM. Oleh sebab itu perlu ada keseriusan dalam pendampingan pelaku-pelaku UMKM, khususnya untuk meningkatkan kapasitas, akses modal, teknologi dan akses informasi.

Demikian hal-hal penting dalam diskusi terbatas tentang pengambangan UMKM yang dilaksanakan di Ruang Dashboard Ekonomi Kerakyatan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Jum’at (3/7) lalu. Diskusi ini diikuti oleh Prof. Gunawan Sumodiningrat, Guru Besar FEB UGM, Dr. R. Maryatmo, Mantan Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang juga Dosen Fakultas Ekonomi UAJY, serta pelaku UMKM dan Rumah Suluh.

gunawan sumodiningratProf. Gunawan mengatakan pendampingan terhadap UMKM sangat penting dilakukan. Hanya saja, kita harus mencari model pendampingan yang lebih baik dan berkelanjutan. “Saya harapkan pendamping yang berkerja mendapatkan kehidupan dari aktivitas pendampingannya, bukan dari luar. Sehingga ia akan lebih serius dan sungguh-sungguh melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM,” jelas Prof. Gunawan.

Ia juga mendukung apabila akan dibentuk sebuah wadah para pelaku UMKM. Sebagai media belajar bersama dan untuk pendampingan. “Kita harus mulai dari yang bisa kita lakukan,” ujarnya.