Globalisasi tidak perlu dibaca dengan kerumitan. Globalisasi harus dibaca dengan jelas: kapitalisme global. Selanjutnya kapitalisme tidak perlu dibaca dengan kerumitan pula! Kapitalisme adalah sebuah model produksi, cara produksi. Coca cola, McD, KFC, dan lain-lain, bukanlah kapitalisme itu sendiri, dia hanyalah produk biasa – yang bisa diproduksi oleh cara produksi apapun. Dengan kata lain, kita perlu melihat kapitalisme pada akarnya, dan jangan terjebak dalam penglihatan kasat mata.

Masalah kapitalisme tentu bukan pada pakaian, makanan atau gaya hidup lainnya, melainkan pada praktek kapitalisme yang didalamnya memuat penghisapan (eksploitasi), akumulasi dengan eksploitasi dan ekspansi. Watak akumulasi dan ekspansi kapitalisme, memuat ia tidak dapat bersifat nasionalistik, tidak bisa bersifat local, melainkan bersifat “mendunia”. Bagia kapitalisme tidak penting surga atau neraka, yang penting bisa tumbuh, bertambah banyak dan bertambah banyak – dengan cara apapun!

Globalisasi adalah konsekuensi dari produksi yang berkembang. Pabrik-pabrik yang tidak mungkin bersifat stagnan. Kalau hari ini bisa memproduksi 100, maka besok berharap 1000, lusa berharap 100.000, dan seterusnya. Kalau produksi berorientasi local, maka kemana produk akan disalurkan? Tentu saja akan disalurkan kemana saja – bukan saja ke tempat yang memerlukan, tetapi juga tempat yang tidak membutuhkan! Kapitalisme akan mengubah kebutuhan anda – dari tidak butuh menjadi butuh! Itulah darah dari pertumbuhan kapitalisme.

Oleh sebab itu, globalisasi pada dasarnya adalah sebuah misi untuk mendobrak semua pintu yang ada. Dihadapan kapitalisme tidak boleh ada pintu! Negara sebetulnya adalah “pintu”! Yang bisa membatasi gerak barang dan jasa! Karena itu, kapitalisme berusaha untuk mendobrak pintu yang ada, atau bahkan menghilangkan pintu yang ada. Peran negara yang dipandang dapat menyempitkan ruang gerak barang dan jasa, dirombak sedemikian rupa, sehingga negara menjadi pro bisnis, pro pasar, dan melayani pergerakan barang dan jasa secara baik.

Maka di dalam globalisasi terdapat proyek pentingnya, yakni melucuti peran negara! Apa maksudnya? (1) kuasa negara dibatasi; (2) ideologisasi dihalangi – negara tidak boleh berideologi, sebaliknya harus terbuka; (3) kuasa negara tidak boleh terpusat, sebaliknya disusun agar terbagi dan menyebar; (4) dan seterusnya! Intinya adalah bahwa negara (dalam hal ini pemerintah), disusun sedemikian rupa sehingga hanya bersifat administrasi belaka, dan tidak boleh menjadi politis (terutama dalam kaitannya dengan kekuatan asing). Negara dihalangi menjadi nasionalis, sebaliknya didorong menjadi terbuka – maka jangan heran bila slogan transparansi, akuntabilitas, dan lain-lain dihembuskan dengan sangat kuat!

Desentralisasi, dalam hal ini menjadi bagian yang tidak terpisah dari proyek globalisasi. Apa maksudnya? Bahwa kekuatan global berharap bahwa kuasa yang terpusat tidak ada lagi. Kuasa daerah dikembangkan. Namun bukan untuk meningkatkan mutu layanan pada masyarakat, tetapi sebaliknya. Dengan kuasa daerah, diharapkan antar masing-masing daerah berlangsung suatu kompetisi dalam menarik investasi. Kompetisi tersebut diharapkan akan menjadi ajang untuk meningkatkan kemudahan bagi investasi. Inilah desentralisasi versi dari globalisasi.

Rakyat sendiri pada dasarnya membutuhkan pula suatu desentralisasi, tetapi dengan maksud yang berbeda. Pengalaman di bawah orde baru yang sentralistik sudah sangat jelas akibatnya. Oleh sebab itulah rakyat membutuhkan desentralisasi. Kebutuhan rakyat dan kepentingan global inilah yang sedang bertemu dan sekaligus sedang bertarung! Rakyat mengharap dengan desentralisasi maka perhatian Pemda pada kepentingan rakyat akan membesar. Sebaliknya, modal menghendaki dengan desentralisasi, suatu investasi tidak perlu pergi ke Jakarta, cukup ke tempat dimana investasi akan ditanam.

Globalisasi yang memiliki maksud meningkatkan sebaran barang dan jasa, tentu saja membutuhkan energi yang besar untuk menggerakkan produksi barang dan jasa! Bagi Bangsa Asia, khususnya di Asia Selatan, kita mendapati kenyataan dimana hampir sebagian besar tenaga kerja tidak produktif! Sebagian dari mereka tidak bekerja alias menganggur, dan sebagian dari mereka hanya menjadi “tenaga kerja tidak produktif”, dalam arti tidak bekerja di sector produksi! Oleh sebab itulah, kekuatan global mencoba menghela manusia-manusia di Asia Selatan ini, untuk pergi dari rumah!

Gerakan mengusir orang dari rumah dilakukan sangat sistematis dalam satu abad ini. Mereka yang berumah di desa, ditendang dari desa, dengan cara mengubah teknologi produksi di pedesaan, dan akibatnya, sebagian besar tenaga kerja terusir dari desa, dan terpaksa pergi ke kota dengan kemampuan yang sangat minim. Sementara itu, di kota, kita juga mendapati kenyataan dimana banyak orang yang pada pagi dan siang hari menghabiskan waktu di dalam rumah, tanpa kegiatan produktif (menghasilkan barang! dan jasa menyebarkan barang tersebut). Dengan perspektif ini, kita dapat melihat bagaimana kekuatan global telah mengembangkan berbagai gagasan dan program, yang secara riil membawa mereka yang ada di dalam rumah untuk ke luar rumah, dan melakukan kegiatan produktif! Siapa yang harus ada di dalam rumah? Kekuatan global telah menyiapkan seluruh keperluan yang diperlukan, sehingga rumah tetap punya dinamika, kendati tanpa manusia didalamnya.

Bagaimana dengan kita? Tentu saja pada sebagian dari gagasan dan program tersebut, ada segi yang kita juga memerlukannya, seperti mendorong produktivitas yang tinggi. Sebagian bangsa yang tertindas, kita memang membutuhkan percepatan dalam proses produksi, memperbaiki kuantitas produksi nasional dan meningkatkan jumlah tenaga produktif. Kita juga tidak ingin ada kekuasaan yang memusat yang merugikan massa rakyat, tetapi kita tidak ingin kekuasaan lalai dalam tugasnya untuk melindungi kaum miskin. Kita ingin orang ke luar rumah untuk berproduksi, tetapi kita ingin produksinya dijalan melalui model yang kerakyatan. Kita ingin desentralisasi, tetapi bukan desentralisasi ala kapitalisme global, melainkan desentralisasi kerakyatan, yang berpihak pada rakyat!

Apa langkah yang patut dilakukan? Kita perlu menyelamatkan transisi ke demokrasi ini, agar rakyat percaya bahwa perubahan memang memberikan arti mendalam pada kehidupan mereka. Oleh sebab itu, para aktivis pergerakan, harus secara tekun bekerja, bukan saja untuk mengembangkan ilmu bongkar, tetapi juga ilmu memasang!

Demikian. (dje)