Syahdan, seorang anak muda dengan kostumnya yang necis dipagi hari mengambil langkah, mengayuh sepeda onthel. Anak muda yang pikirannya sedang suntuk itu, mengayuh onthelnya hingga menyusuri wilayah pinggiran Bandung selatan, Cigereleng, desa Cibintinu. Kayuhnya terhenti, ketika pandangannya tertuju pada seorang anak muda yang sedang giat mencangkul sawah, tak jauh dari pinggir jalan.

Turun dari onthelnya, anak muda yang kita tahu Sang Proklamator RI itu, mendekati petani muda itu. Obrolan pun berlangsung di antara keduanya sebagaimana terekam pada Soekarno: Kuantar Ke Gerbang (2014) dan Untold Story, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Jas Merah (Jangan Lupakan Sejarah) (2013).

“Siapa yang punya semua yang engkau kerjakan sekarang ini?” kata Soekarno kepada petani itu. “Saya, juragan,” jawab petani itu. Soekarno melanjutkan, “Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?” Dijawab, “O, tidak, gan. Saya sendiri yang punya.” “Tanah ini kau beli?” sambung Soekarno. “Tidak. Warisan bapak kepada anak turun temurun,” tegasnya.

Usai percakapan singkat itu, petani muda yang bernama Marhaen itu melanjutkan pekerjaannya mencangkul sawah. Sementara Soekarno diam sejenak, mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang sedang dipikirkannya saat bersepeda tadi. Percakapan mereka pun berlanjut.

Kita tahu usai percakapan, Bung Karno muda yang ‘menggilai’ Marxisme, seperti menemukan harta karun. Dengan raut wajah gembira Bung Karno muda, mengayuh sepedanya pulang dan menceritakan pengalaman bertemu dengan Marhaen itu pada istrinya Inggit Ganarsih. Dari sinilah Bung Karno menggagas Marhaenisme.

“Seorang Marhaen adalah orang yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekadar cukup untuk dirinya sendiri,” kata Soekarno setelah merumuskan gagasan Marhaenisme.

Pasca pembacaan pleidoi Indonesia Menggugat dihadapan sidang pengadilan kolonial Belanda tahun 1930 itu, paham Marhaen pun merambah luas menjadi ide yang diperdebatkan dilingkar-lingkar diskusi. Bagi Bung Karno, kaum marhaen sama halnya dengan kaum proletar dalam istilah Marxisme-Leninisme untuk menyebut golongan rakyat yang tertindas. Bedanya, Marhaen tidak menjual tenaga produksinya pada orang lain. Tapi hidupnya miskin.

Zaman bergerak. Rezim berganti. Bung Karno pernah berpesan: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Termasuk kisah perjumpaannya yang singkat dengan petani muda Marhaen itu. Pendekatan yang dilakukan Bung Karno pada Marhaen memang terbilang ‘pragmatis’ membaca materialistis Marxisme ketika Marx bicara tentang kaum proletar di Eropa. Bernhard Dahm dalam bukunya Sukarno dan Perjuangan Kemerdekaan (1987) menyebut Bung Karno memang bergaya Marxisme dalam melihat Marhaenisme. Namun pendekatannya anti-Marxisme. Dahm menilai Bung Karno gagal menempatkan landasan materialistis Marxisme pada Marhaenisme.

Bernhard Dahm benar. Tapi seperti kata Bung Karno “Marhaenisme adalah pergaulan hidup yang sebagian besar sekali terdiri dari kaum tani kecil, kaum buruh kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil. Pendek kata, kaum kromo dan kaum marhaen yang apa-apanya semua kecil” yang akhirnya bergelora meski ‘berbelok’ dari kesahihan teoritik. Seperti gelora diawal pidato pleidoi yang mengguncang dunia itu berikut ini:

“Pergerakan tentu lahir toh, diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak; diberi pegangan atau tidak diberi pegangan; diberi penguat atau tidak diberi penguat, tiap-tiap makhluk, tiap-tiap umat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti akhirnya berbangkit, pasti akhirnya bangun, pasti akhirnya menggerakan tenaganya, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan celakanya diri teraniaya oleh suatu daya angkara murka!”. Para Marhaen itulah yang pada gilirannya bersama-sama dengan kaum terpelajar bergerak dan berjuang merebut kemerdekaan dari kolonial Belanda.

Kini hampir satu abad lamanya kisah perjumpaan dua tokoh beda ‘kasta’ itu. Kisah hidup para Marhaen seperti dibenaknya Bung Karno kala itu “yang apa-apanya semua kecil” itu, kini “yang apa-apanya” kian digiling gilas oleh pemilik modal yang sialnya ‘berkonco’ dengan para pengambil kebijakan. Di kampung-kampung, di desa-desa dan di kota-kota kaum “yang apa-apanya kecil” itu hampir-hampir tak berdaya.

Kita membaca pada Marhaen! Kita belajar pada Bung Karno!

(Giy Tomia-Rumah Suluh)