Saat ini populasi manusia yang menghuni bumi diperkirakan sebanyak 7,3 miliar jiwa. Jumlah itu akan terus bertambah, seperti dilansir National Geographic (2013), pada tahun 2050 populasi dunia bisa mencapai 9 miliar jiwa. Seperti bejana yang saling berhubungan, ledakan populasi jika tak diikuti daya tahan ekosistem dan lingkungan yang memadai untuk mensuplai kebutuhan manusia, yang terjadi ialah ketidakseimbangan, ketidakharmonisan yang bisa memicu ketegangan dan persoalan baik yang menimpa manusia sendiri seperti kemiskinan, kelaparan, wabah penyakit serta konflik horizontal akibat kelangkaan sumber daya. Lingkungan di mana manusia tinggal juga akan mengalami hal serupa berupa perubahan iklim ekstrim, banjir, sampah, serta kerusakan massif ekologis lainnya

Thomas Robert Malthus (1978) telah memperingatkan dampak ketidakseimbangan populasi dan daya tahan lingkungan. Pertumbuhan manusia yang melampaui batas persediaan makanan, menurutnya, memicu kemiskinan, kerentanan dan kelaparan pada umat manusia. Kekhawatiran Malthus disatu sisi bisa dibenarkan. Tapi revolusi teknologi pangan di sisi yang lain mampu memacu produktivitas pangan dalam jumlah yang besar. Dengan demikian problem kelangkaan pangan bisa diminimalisir berkat revolusi teknologi pangan tersebut.

Tapi masalah lain muncul. United Nation Food And Agricultural Organization atau FAO (2013) merilis data, pangan yang terbuang percuma setidaknya mencapai 1,3 juta ton. Padahal jumlah itu setara dengan sepertiga jumlah makanan yang diproduksi di dunia. Pangan yang terbuang percuma itu sungguh ironis ketika terdapat 800 juta orang tertidur dalam kondisi kelaparan karena persoalan ekonomi.

Laporan FAO yang bertajuk: Food Wastage Footprint: Impacts on Natural Resources  tersebut juga mencatat, makanan yang terbuang merugikan ekonomi dunia senilai $ 750 miliar per tahun. Kerugian ini melengkapi daftar kerusakan ekologi lainnya seperti kelangkaan air, lahan, rusaknya keanekaragaman hayati serta memicu perubahan iklim dan pemanasan global akibat limbah yang disebabkan dari makanan yang terbuang sia-sia tersebut.

Emma Warsh dari Food Love Hate Waste, seperti dikutip laman National Geographic mengatakan ini adalah persoalan perilaku. Jika sudah menyangkut perilaku manusia tampaknya perlu perhatian yang serius atau perlu dibangun kesadaran betapa pentingnya tak menyia-nyiakan pangan/makanan di dalam gaya hidup keseharian kita.

Sadar atau tak disadari, habitus manusia modern membuat kita kerap terbiasa menyimpan makanan di ruang-ruang pengawetan, seperti lemari es. Kejadian ini kerap terjadi saat membuka lemari es dan tidak sengaja memakan panganan nyaris kadaluarsa. Mengetahui panganan nyaris kadaluarsa, tak jarang kita langsung membuangnya. Jika belum berbau, maka makanan itu masih dapat dikonsumsi. Namun tanpa pikir panjang kita bisa saja  membuangnya ke tong sampah. Itu baru contoh kecil bagaimana kita berhadapan dengan panganan.

Pada tahun 2013, FAO menyebutkan Indonesia adalah salah satu Negara pengimpor pangan terbesar di dunia. Ironisnya di saat yang sama pula masih ada jutaan orang Indonesia yang kelaparan, kurang gizi serta food insecurity yang tersebar di ranah perkotaan maupun di wilayah-wilayah pinggiran. Belum lagi menelaah berapa volume limbah yang dihasilkan akibat sisa pangan tersebut yang terbuang percuma beserta efek destruktifnya pada lingkungan.

Jika sudah demikian apa yang mesti dilakukan? Sebagian orang sepertinya tampak kompromi atau malahan cuek dengan persoalan yang menyangkut hajat hidup atau masa depan bukan hanya menyangkut keselamatan satu bangsa atau tanah air ini. Ini juga menyangkut kelangsungan hidup spesies manusia di muka bumi pada umumnya.

Beberapa kebijakan pemerintah juga telah diupayakan semisal gerakan penghematan energi, lembaga-lembaga nirlaba sudah aktif mengkampanyekan gerakan hidup ramah lingkungan serta lahirnya komunitas-komunitas lokal berbasis ekologi. Tapi seperti pengakuan Emma Warsh di atas, ini menyangkut perilaku atau habit dari setiap manusia. Ada baiknya juga menengok ajaran kebijaksanaan kuno seperti anjuran puasa. Tapi bukan puasa dalam terminologi agama tertentu. Tapi puasa terus-menerus, tak siang tak malam untuk menghentikan hasrat sebelum kenyang yang mampu menyelamatkan kita. Bumi kita. Anjuran ini memang tidaklah populer.