soegijaKisah Albertus Soegijapranata, sebagaimana yang diangkat dalam film Soegija garapan Garin Nugroho, dibintangi oleh Nirwan Dewanto, tentu menarik untuk diangkat kembali, terutama dalam rangka merefleksikan model kepemimpinan yang dibutuhkan hari ini dan masa depan kita: sosok ideal, sebagaimana yang diharapkan rakyat. Mengambil kisah dari yang lalu, dan menghadirkannya kembali (di hari ini), tentu saja menarik dan penting – karena apa yang dihadirkan, bukan sesuatu yang asing, melainkan sesuatu yang pernah terjadi, pernah dijalankan, dan berinteraksi dengan realitas yang nyata.

Dengan optik Soegija, di luar aspek pluralitas, setidak-tidaknya ada tiga hal penting yang terasa tidak ada, atau alpa dalam praksis kepemimpinan dewasa ini – hampir disemua lini kepemimpinan. Pertama adalah kemampuan bertanya. Apakah pemimpin ada di atas, ataukah di bawah? Kalau kita kembali kepada realitas sekarang ini, maka akan sangat tampak wajah pemimpin yang “tinggi”, “besar” dan serba tahu. Ada rasa malu jika pemimpin tidak tahu, dan apalagi bertanya. Padahal pemimpin harus tahu apa yang menjadi keinginan dan kepentingan dasar dari mereka yang dipimpinnya – bagaimana pemimpin mengetahui budi nurani rakyat, jika tidak punya ilmu bertanya?

Kedua adalah kemampuan untuk mendengar. Para pemimpin yang merasa diri serba tahu, terasa jarang menyertakan telinga ketika bepergian. Mereka umumnya datang untuk memberikan petunjuk, pengarahan dan sejenisnya. Mereka tidak merasa perlu mendengar, terutama mendengarkan suara nuarani rakyat – apa yang menjadi harapan rakyat, kegelisahan rakyat, dan masalah-masalah yang dihadapinya. Ketika datang masa kampanye, mereka yang akan menjadi pemimpin, bukan makin rajin mendengarkan rakyat, malah sebaliknya, memaksa rakyat menghapalkan dia punya wajah yang muncul dalam poster-poster, baliho dan media lainnya. Maka wajar jika pada kebanyakan pemimpin merasa galau jika rakyat tidak mengenalnya, dan sebaliknya tidak merasa sedih jika tidak mengenal rakyatnya.

Ketiga adalah kemampuan melayani. Barangkali terasa klise kalau pada hari ini kita bicara tentang kepemimpinan yang melayani. Karena hampir semua pemimpin berusaha menampilkan diri sebagai pelayan rakyat ketika musim kampanye. Lihatlah bagaimana mereka datang ke pasar-pasar tradisional; lihatlah bagaimana mereka datang ke kampung-kampung kumuh, dan kawasan-kawasan lain, sekedar ingin menunjukan kepada public, bahwa dirinya adalah pihak yang penuh dengan kepedulian dan siap memberikan pelayanan. Namun, persis disitulah masalah pokoknya. Ketika kursi kekuasaan telah diduduki, maka yang terjadi jauh berkebalikan dengan apa yang dikampanyekan. Barangkali disini pesan pentingnya: rupanya apa yang gencar dikampanyekan, adalah hal yang sesungguhnya tidak ingin dilakukan.

Dengan optic Soegija, kita dapat mengatakan bahwa pemimpin dan cara kerja pemimpin seharusnya menempatkan rakyat sebagai subyek, bukan sebaliknya. Cara kerja pemimpin sudah waktunya untuk diubah, bukan mulai dari atas, melainkan mulai dari bawah. Apa yang dimaksud dengan mulai dari bawah? Yakni cara kerja yang mulai dengan pengetahuan yang baik tentang mereka yang ada di bawah. Pengetahuan tentang rakyat adalah hal mutlak yang harus diketahui oleh siapapun pimpinan public. Para pemimpin tidak bertanya melalui lembaga survey, melainkan terjun langsung ke bawah, melakukan dialog (bertanyan dan mendengar), dan dari sana mengkonstruksi dengan nurani yang bersih, menjadi suatu pengetahuan yang utuh, manusiawi dan dinamis – tentang rakyat, dan seluruh masalah yang dipikulnya.

Bagaimana para elit (pemimpin dan calon pemimpin), dapat mengetahui hal ihawal tentang rakyat, jika mereka tidak mengenal rakyat – atau berjarak dengan rakyat? Bagaimana mereka akan menjadi pelayan rakyat jika tidak dekat dengan rakyat? Di sinilah titik pentingnya perspektif pelayanan. Dengan perspektif ini, menjadi mutlak kehadiran pemimpin di tengah rakyat. Persis di sini pula kritik public kepada pemimpin hari ini, dan seluruh institusi yang mengklaim mewakili aspirasi rakyat – baik itu partai, parlemen, ataupun lainnya. Rakyat kini merasakan suatu keadaan dimana para pemimpin justru mangkir ketika mereka membutuhkan bantuan. Katakan saja dengan kasus kekerasan yang merusak sendi-sendi kemanusiaan dan keberagaman: dimana para pemimpin dan institusi kepemimpinan. Katakan saja dengan kasus kemiskinan dan tidak terjangkaunya layanan kesehatan dan pendidikan, yang secara jelas memperlihatkan buruknya layanan public: dimana para pemimpinnya?

Pemimpin seharusnya hadir di tengah rakyat, hadir dalam pergulatan hidup rakyat, dan menjadi bagian dari penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi rakyat. Pemimpin ada di barisan terdepan ketika rakyat menghadapi masalah, sebab disitulah makna sesungguhnya dari pemimpin. Kini para pemimpin lebih suka hadir dalam realitas media. Sibuk memoles diri, dan berusaha tampil seolah-olah sebagai pemimpin sejati. Berbeda dengan pemimpin di masa lalu, yang lebih dulu dikenal perbuatan, pikiran dan kiprahnya, ketimbang wajahnya. Kita hendak menegaskan bahwa pemimpin di masa lalu, adalah mereka yang lahir dari pergulatan, lahir dari kancah pengabdian, dan karena itu, nama mereka lebih dulu dikenal rakyat ketimbang wajahnya. Hal ini berkebalikan dengan pemimpin sekarang ini, yang lebih dulu menyodor-nyodorkan wajahnya melalui iklan, tanpa peduli apakah ada yang sedang dipikirkan (visi) dan apakah ada yang telah diperbuatnya. (SOEGIJA, dengan beberapa penyesuaian)