Keberadaan Usaha Micro, Kecil dan Menengah (UMKM) memang sudah teruji. Hal ini dapat kita lihat saat Indonesia diterjang krisis tahun 1997, UMKM membuktikan diri menjadi tumpuan perekonomian nasional. UMKM mampu bertahan dibandingkan dengan usaha besar yang cenderung terpuruk.

Peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang besar ditunjukkan oleh jumlah unit usaha dan pengusaha, serta kontribusinya terhadap pendapatan nasional, dan penyediaan lapangan kerja. Indonesia memiliki jumlah UMKM paling besar dibanding negara-negara lain. Saat ini terdapat sekitar 57,9 juta pelaku UMKM yang menyerap tenaga kerja hingga 97,30 persen. Walaupun kontribusi UMKM terhadap PDB hanya 58,92 persen (tahun 2014), masih lebih besar korporasi besar yang jumlahnya hanya sedikit. Dengan kondisi seperti ini UMKM berpotensi menjadi wadah pemberdayaan masyarakat dan penggerak dinamika perekonomian.

Proporsi Kontribusi UMKM dan Usaha Besar (UB) terhadap PDB Nasional tahun 2010-2011 Menurut Harga Berlaku. Sumber: Kementerian Kopersi dan UKM

Hanya saja masih banyak kendala yang membuat UMKM belum bisa berkembang dengan baik, baik itu persoalan internal maupun eksternal. Masalah internal antara lain rendahnya kapasitas pelaku UMKM serta manajemen yang belum tertata dengan baik. Penguasaan teknologi dan pemasaran pun masih dinilai lemah. Belum lagi jika kita bicara tentang akses terhadap permodalan, informasi, teknologi dan pasar, serta faktor produksi lainnya.

Proporsi Jumlah Tenaga Kerja UMKM dan Usaha Besar (UB) Tahun 2010 – 2011 (%). Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM

Sedangkan persoalan eksternal yang menghadang UMKM antara lain biaya transaksi besar akibat iklim usaha yang kurang mendukung. Persoalan legalitas formal serta tingginya biaya pengurusan perizinan juga masih dihadapi UMKM. Belum lagi kelangkaan bahan baku bagi beberapa sektor masih menjadi kendala.

Melihat arti penting UMKM, maka sudah selayaknya pengembangan UMKM menjadi strategi dalam pemberdayaan masyarakat serta pengentasan kemiskinan yang hingga kini masih tinggi. Apalagi kita akan menghadapi masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang dapat dijadikan peluang atau malah ancaman. (ET)

 

Pengertian Dasar:

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 50 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300 juta.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 50 juta sampai dengan paling banyak Rp. 500 juta tidak termasuk tanah dan bangunan atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 300 juta sampai dengan paling banyak Rp. 2,5 miliar.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp. 500 juta sampai dengan paling banyak Rp. 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp. 2,5 miliar sampai dengan paling banyak Rp. 50 miliar. (Sumber: Buku Statistik UMKM Tahun 2010-2011)